Selasa, 24 Mei 2016
KESEIMBANGAN AD-AS
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Dalam menjaga kesetabilan perekonomian,
pemerintah melakukan berbagai analisis makro ekonomi dalam rangka menentukan
kegiatan dan kebijakan untuk mengatasi permasalahan yang timbul dalam
perekonomian suatu negara. Yang didasarkan atas pandangan teori-teori ahli ekonomi yaitu mulai dari teori pandangan
Klasik sampai teori pandangan Keynes.
a. Pandangan Klasik
Ahli ekonomi Klasik berpandangan bahwa
perekonomian selalu mencapai tingkat kesempatan kerja penuh. Menurut ahli-ahli
ekonomi Klasik, seperti dicontohkan oleh Hukum say atau pandangan Jean
Baptish Say seorang ahli ekonomi Prancis:”Supply creates its own
demand”. Dalam bahasa indonesia ungkapan ini dapat dinyatakan sebagai:”
Penawaran dengan sendirinya menciptakan permintaan.”
b. Pandangan Keynes: Permintaan Efektif dan Kegiatan Ekonomi
Dalam bukunya(buku Keynes) beliau
berpendapat: tingkat permintaan efektif(effective demand)-yaitu pengluaran
agregat (permintaan efektif pada harga tetap) dan permintaan agregat
(permintaan efektif pada tingkat harga) akan menunjukkan sejauh mana
produksi nasional akan diwujudkan dalam ekonomi dan kesempatan kerja akan
dicapai, dan dalam perekonomian, kesempatan kerja penuh tidak akan selalu dapat
dicapai. Yang sering berlaku adalah masalah pengangguran.
Dengan demikian terjadi penolakan terhadap
analisis klasik dan penerimaan analisis Keynes. Sehingga analisis Keynes
terlahir dalam teori ekonomi. Tapi pada akhirnya teori Keynes juga mengalami
nasib yang sama dengan teori Klasik. Dimana prediksi Keynes berkali-kali
meleset, bahkan diawal teori ini dimulai timbul stagnasi dan tidak mempunyai
kebijaksanaan Fiskal dan Moneter untuk menyelesaikan masalah inflasi. Stagnasi
disini yaitu suatu kondisi ekonomi yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang
lambat dan pengangguran yang tinggi.[1]
Kemudian semenjak akhir tahun 1960an
semakin banyaknya ahli-ahli ekonomi yang berpendapat bahwa padangan Klasik dan
Keynesian tidak dapat menerangkan sifat yang sebenarnya dari penawaran agregat.
Oleh karenanya analisis keseimbangan pandapatan nasional belum dapat memberikan
gambaran yang memuaskan mengenai penentuan kegiatan ekonomi negara, pendapatan
nasional yang diwujudkan dan tingkat inflasi yang berlaku. Ketidakpuasan inilah
yang kemudian mendorong kepada perkembangan analisis AD-AS yang lebih lengkap
yang antara lain meliputi analisis mengenai penawaran agregat.
2.
Rumusan Masalah
a. Kurfa Permintaan Agregat(AD)
b. Kurfa Penawaran Agregat(AS)
c. Keseimbangan Permintaan-Penawaran Agregat (AD-AS)
B.
PEMBAHASAN
1.
KURVA PERMINTAAN
AGREGAT (AD)
Permintaan Agregat dapat didefinisikan sebagai tingkat
pengluaran yang akan dilakukan dalam ekonomi pada berbagai tingkat harga.[2] Untuk
lebih memahami ciri kurva AD, dalam bagian ini akan diterangkan tiga aspek sebagai berikut:
a. Cara
Menerbitkan Kurva AD
Misalkan pada mulanya tercapai suatu
keseimbangan Y=AE. Seterusnya misalkan tingkat harga adalah
. Apakah yang dapat diramalkan akan
berlaku kepada keseimbangan itu apabila harga meningkat dari
menjadi
? Untuk memperoleh jawabannya perlu
terlebih dahulu dijawab pertanyaan berikut: (a) apakah efek kenaikan harga pada
pendapatan riil, dan (b) apakah efek kenaikan harga kepada suku bunga? Kenaikan
harga menyebabkan pendapatan riil masyarakat menurun dan seterusnya menyebabkan
nilai riil konsumsi rumah tangga juga merosot. Seterusnya inflasi akan
menaikkan suku bunga dan kenaikan ini akan mengurangi investasi. Dari jawaban
diatas dapat disimpulkan: kenaikan menyebabkan nilai riil pengeluaran nilai
agregat merosot dan menurunkan pendapatan nasional riil pada keseimbangan.
Gambar (a) menunjukkan perubahan
keseimbangan sebagai akibat dari kenaikan harga, gambar (b) menunjukkan kurva
AD yang dibentuk berdasarkan perubahan keseimbangan dalam bagian (a). Misalkan
pada mulanya pada tingkat harga adalah
dan pengeluaran agregat pada tingkat harga ini
adalah AE(
). Dengan demikian keseimbangan dicapai di
dan pendapatan nasional adalah
. Kenaikan harga dari
menjadi
menyebabkan pengeluaran agregat riil merosot
dari AE(
) menjadi AE(
. Perubahan ini menyebabkan keseimbangan
baru dicapai di
dan pendapatan nasional pada keseimbangan
merosot menjadi
.
Dari perubahan keseimbangan diatas
sekarang barulah dapat ditunjukkan cara untuk membentuk kurva AD. Pada gambar
(a) keseimbangan asal, yaitu pada harga
, adalah di titik
dan pendapatan nasional adalah
. Titik A pada gambar (b) menunjukkan
keadaan keseimbangan yang asal ini,yaitu pada harga
pendapatan nasional adalah
. Kenaikkan harga dari
menjadi
memindahkan keseimbangan ke
dan pendapatan nasional adalah
. Dalam bagian (b) titik B menunjukkan
keadaan keseimbangan yang baru ini, yaitu tingkat harga adalah
dan pendapatan nasional adalah
. Dengan menarik garis melalui titik A
dan titik B akan terbentuk kurva permintaan agregat AD. Dari sifat diatas,
kurva AD dapat didefinisikan sebagai suatu fungsi (atau kurva) yang
menggambarkan hubungan antara tingkat harga dengan jumlah pengeluaran agregat
yang akan dilakukan dalam perekonomian.
Dari definisi tersebut dapat dipahami
perbedaan arti konsep pengeluaran agregat dan permintaan agregat. Pengeluaran
agregat berlaku pada harga tetap, sedangkan permintaan agregat berlaku pada
harga yang berubah.
Gambar
1.1
Tingkat
Harga, Keseimbangan Pendapatan Nasional dan Kurva AD[3]
|
Pendapatan nasional riil
|
|
|
AD
|
B
|
|
|
A
|
(b) Membentuk Kurva AD
|
Tingkat Harga
|
(a)
Efek perubahan harga
|
Pengeluaran Agregat
|
Pendapatan
nasional
|
|
|
Y=AE
|
|
|
|
|
|
45º
|
b. Sifat
Utama Kurva AD
Kurva AD selalu merupakan suatu garis
yang menurun dari kiri-atas ke kanan-bawah. Artinya semakin rendah tingkat
harga, semakin besar permintaan agregat yang wujud dalam perekonomian. Hal ini
karena disebabkan oleh beberapa faktor seperti:
1)
Tingkat Harga dan Pengeluaran Rumah tangga
Dalam
waktu tertentu tingkat pendapatan nilai nominal masyarakat adalah tetap.
Tingkat gaji, upah dan jumlah kesempatan kerja akan menentukan jumlah
pendapatan yang diterima masyarakat pada waktu tertentu. Apabila tingkat harga
berbeda, daya beli pendapatan yang diperoleh juga berbeda. Semakin rendah
tingkat harga, semakin banyak barang dan jasa yang dapat dibeli. Dengan kata
lain, nilai pengeluaran agregat akan semakin meningkat apabila harga semakin
rendah.
2)
Tingkat Harga, Suku Bunga dan Investasi
Terdapat keterkaitran
antara perubahan tingkatan harga dengan suku bunga. Apabila harga stabil, atau
tingkat inflasi sangat rendah, suku bunga akan cenderung rendah. Semakin
tinggi inflasi semakin tinggi pula suku
bunga. Terdapat keterkaitan yang erat pula
antara suku bunga dan investasi, yaitu semakin tinggi suku bunga akan
menyebabkan penurunan dalam investasi. Penurunan investasi menyebabkan
pengurangan pengeluaran agregat. Dengan demikian kenaikan harga akan
menimbulkan proses perubahan berikut:
a. Harga
naik menyebabkan suku bunga naik
b. Suku
bunga naik menyebabkan investasi turun
c. Investasi
turun menyebabkan pengeluaran agregat dan pendapatan nasional riil turun.
3)
Tingkat Harga, Ekspor dan Impor
Tingkat harga akan
menjadi salah satu faktor yang penting yang menentukan ekspor dan impor suatu
negara. Secara umum dapat dikatakan:
a. Apabila
barang-barang dalam suatu negara adalah relatif lebih murah, ekspor akan
meningkat dan impor akan berkurang,dan sebaliknya,
b. Apabila
barang-barang dalam suatu negara adalah relatif lebih mahal, maka ekspor akan
menurun dan imporlah yang akan meningkat.
Berdasarkan
sifat ini dapat disimpulkan:
1. Kenaikan
harga akan menurunkan ekspor neto (ekspor dikurangi impor)
2. Pengurangan
ekspor neto akan menurunkan pengeluaran agregat dan pendapatan nasional riil.
c. Perpindahan
Kurva Permintaan Agregat AD
1)
Efek pertambahan komponen pengeluaran agregat
Apa pun perubahan yang akan brelaku,
yaitu apakah iya merupakan pertambahan C, I, G atau X, efeknya kepada
pertambahan pengeluaran agregat dan pendapatan nasional adalah sama, yaitu:
ΔY = Multiplier x ΔAE
Dimana ΔAE dapat berupa pertambahan salah
satu dari yang berikut: C, I, G, dan X. Maka secara gambar efek pertambahan
salah satu komponen dari pengeluaran agregat, misalnya pertambahan investasi,
adalah seperti yang ditunjukkan dalam gambar. 1.2
Pengeluaran agregat yang asal adalah AE(
) dan kenaikan investasi sebesar ΔI
memindahkan pengeluaran agregat menjadiA
(
).dengan kata lain, pertambahan investasi
akan menambah pendapatan nasional dari
menjadi
akan tetapi tingkat harga tidak berubah dan
tetap sebesar
. Berdasarkan pada perubahan ini, pada
bagian gambar (b) ditunjukkan efek pertambahan pengeluaran agregat (investasi)
terhadap kurva permintaan agregat AD.
Berdasarkan kepada keseimbangan Y=AE(
) yaitu keseimbangan pendapatan nasional
yang asal, tingkat harga adalah
dan pendapatan nasional riil adalah
. Dalam gambar (b), kurva
menunjukkan permintaan agregat yang asal, dan
titik A menunjukkan keseimbangan pendapatan nasional yang asal. Kenaikan
investasi memindahkan keseimbangan dari
menjadi
dan opada keseimbangan yang baru ini tingkat
harga tetap pada
tetapi pendapatan nasional riil meningkat
menjadi
. Berarti, dalam gambar (b) keseimbangan
yang baru ditunjukkan oleh titik B. Berdasarkan kepada keseimbangan ini dapat
ditentukan kurva permintaan agregat yang baru, yaitu kurva
yang melalui B sejajar dengan
.
Sampai manakah pergeseran AD menjadi
? Gambar (b) jelas menunjukkan bahwa AB
sama dengan
. Dan nilai
atau ΔY adalah: Multiplier x ΔI. Dengan
demikian jarak diantara
dengan
adalah sama dengan: Multiplier x ΔI.
Walau bagaimanapun dalam analisis AD-As
nilai multiplier akan selalu lebih kecil dari dalam analisis Y = AE. Hal ini
disebabkan karena apbila AD bertambah keseimbangan AD-AS yang baru akan
tercapai pada tingkat harga yang lebih tinggi dan pendapatan nasional yang
lebih rendah daripada yang didapati dalam analisis Keynesian sederhana.
Gambar
1.2
Efek
pertambahan pengeluaran Agregat ke atas Kurva AD
Pendapatan nasional
|
Y=AE
|
A
|
AE(
|
|
|
ΔIIiiiiiII
|
|
|
45º
|
Pengeluaran
Agregat
|
0
|
(a). Efek pertambahan pengeluaran agregat
|
B
|
A
|
|
|
|
|
|
0
|
Tingkat Harga
|
Pendapatan nasional riil
|
(b) Perpindahan AD efek dari pertambahan pengeluaran
agregat
|
2)
Efek Pertambahan Bocoran
Untuk menunjukkan efek pertambahan
bocoran terhadap kurva permintaan agregat AD digunakan gambar 1.3. Bagian (a)
menunjukkankeseimbangan pendapatan nasional dengan menggunakan pendekatan Y=AE.
Pengeluaran agregat yang asal adalah AE(
)dan keseimbangan tingakat harga adalah
dan pendapatan nasional
. Dalam gambar (b) titik A menggambarkan
keseimbanganini dan berarti
adalah permintaan agregat yang asal dan titik
A menunjukkan bahwa tingkat harga adalah
dan pendapatan nasional
Misalkan pemerintah menaikkan pajak, jika
pajak bertambah,maka akan mengurangi pendapatan diposebel dan pada akhirnya
konsumsi rumah tangga akan turun (berkurang sebanyak ΔC = MPC. ΔT). Pengurangan
konsumsi rumah tangga akan menurunkan pengeluaran agregat dari AE(
). Sebagai akibatnya keseimbangan
bergeser dari
ke s
dan pendapatan nasionalriil akan merosot
menjadi
.
Dalam gambar (b) keseimbangan pada
digambarkan oleh titik B, yaitu yang
menunjukkan tingkat harga adalah
dan pendapatan nasional
. Dengan demikian kenaikan pajak
menyebabkan:
a. Pengeluaran
agregat merosot dari AE(
) menjadi A
(
),dan
b. Kemerosotan
itu menyebabkan kurva
bergerak menjadi
.
Gambar
1.3
(a). Efek kenaikkan
pajak keatas pengeluaran agregat
|
Pendapatan nasional
|
A
|
AE(
|
Y=AE
|
|
|
|
|
45º
|
Pengeluaran
Agregat
|
0
|
ΔC
|
Pendapatan nasional riil
|
A
|
|
|
0
|
Tingkat Harga
|
|
B
|
|
|
(b). Perpindahan AD efek kenaikkan pajak pendapatan
|
2.
KURVA PENAWARAN AGREGAT
(AS)
Yang dimaksud
dengan penawaran agregat jumlah barang dan jasa yang ditawarkan dalam suatu
negara pada suatu tahun tertentu.[4]
AS
|
C
|
B
|
A
|
Pendapatan nasional riil
|
|
0
|
Tingkat Harga
|
a. Ciri-Ciri
Kurva AS
Kurva penawaran agregat (AS) yang akan
digunakan adalah seperti gambar diatas. Dalam analisis makro-ekonomi diwaktu
ini kurva penawaran agregat (AS) mempunyai ciri-ciri berikut:
1. Pada
ketika tingkat pengangguran masih tinggi, kurva penawaran agregat AS relatif
landai. Maksudnya, Penambahan produksinasional dapat dilakukan
perusahaan-perusahaan pada harga yang relatiftetap karena tingkat penggunaan
barang modal belum mencapai kapasitasnya yang optimum dan upah masih relatif
tetap. Tahap ini dicapai pada bagian AB dari kurva AS.
2. Dari
titik B sampai titik C, yaitu titik pada garis tegak pada tingkat kesempatan
kerja penuh, kurva AS bertambah tingkah kenaikannya. Sebabnya adalah
pengangguran sudah semakin merosot dan kapasitas pabrik-pabrik sudah mencapai
optimum.
3. Sesudah
tingkat kesempatan kerja penuh kurva AS keadaannya semakin tegak.
Kurva penawaran agregat AS adalah suatu
kurva yang berbentuk melengkung dari kiri-bawahke kanan-atas, dengan tingkat
kelengkungan yang semakin lama semakin tinggi.
Kurva penawaran agregat pada hakikatnya
menggambarkan tentang hubungan diantara tingkat harga yang berlaku dalam
ekonomi dan nilai produksi riil (atau pendapatan nasional riil) yang akan
ditawarkan dan diproduksi oleh semua perusahaan dalam suatu perekonomian.
Bentuknya yang melengkung keatas berarti semakin tinggi tingkat harga umum,
semakin banyak output nasional yang akan diproduksikan oleh
perusahaan-perusahaan dalam perekonomian.
b.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bentuk Kurva AS
Dua
faktor dapat dipandang sebagai penyebab dari bentuk kurva AS yang melengkung ke
atas, yaitu:
1)
Efek Hukum Hasil tambahan yang semakin berkurang
2)
Pasaran tenaga kerja dan
kurva penawaran agregat
3)
Tingkat pengangguran dan
tingkat kenaikan upah
3.
KESEIMBANGAN
PERMINTAAN-PENAWARAN AGREGAT (AD-AS)
a.
Keseimbangan
Makro-Ekonomi
Analisis keseimbangan makro-ekonomi ini telah memasukkan unsur
perubahan harga dalam analisa keseimbangan.
Ketika kelebihan penawaran berlaku, stok barang dalam perusahaan
(inventaris) berlebihan dan ini akan mendorong kepada pengurangan kegiatan
ekonomi. Pada keadaan yang sebaliknya, yaitu apabila kelebihan permintaan
berlaku, perusahaan-perusahaan akan menambah produksinya dan kegiatan ekonomi
berkembang. Hanya pada ketika permintaan agregat sama dengan penawaran agregat
tingkat kegiatan ekonomi tidak mengalami perubahan dan keseimbangan
makro-ekonomi tercapai.
b.
Perubahan
Keseimbangan dan Penyebabnya
Keseimbangan permintaan agregat penawaran akan selalu mengalami
perubahan dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan dalam keadaan
perekonomian.
C. KESIMPULAN
Permintaan
Agregat dapat didefinisikan sebagai tingkat pengluaran yang akan dilakukan dalam
ekonomi pada berbagai tingkat harga. Sedangkan Yang dimaksud dengan penawaran agregat jumlah barang
dan jasa yang ditawarkan dalam suatu negara pada suatu tahun tertentu.
Keseimbangan permintaan-penawaran agregat (ad-as) terdiri dari:
a. Keseimbangan Makro-Ekonomi
Analisis keseimbangan makro-ekonomi ini telah memasukkan unsur
perubahan harga dalam analisa keseimbangan.
Ketika kelebihan penawaran berlaku, stok barang dalam perusahaan
(inventaris) berlebihan dan ini akan mendorong kepada pengurangan kegiatan
ekonomi. Pada keadaan yang sebaliknya, yaitu apabila kelebihan permintaan
berlaku, perusahaan-perusahaan akan menambah produksinya dan kegiatan ekonomi
berkembang. Hanya pada ketika permintaan agregat sama dengan penawaran agregat
tingkat kegiatan ekonomi tidak mengalami perubahan dan keseimbangan
makro-ekonomi tercapai.
b.
Perubahan
Keseimbangan dan Penyebabnya
Keseimbangan permintaan agregat penawaran akan selalu mengalami
perubahan dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan dalam keadaan
perekonomian.
D. DAFTAR PUSTAKA
Sukirno Sadono, 2010, Makroekonomi,
Jakarta: Raja Grafindo Persada. Edisi ketiga.
Sukirno Sadono, 2002, Pengantar Teori Makroekonomi,
Jakarta: Raja Grafindo Persada. Edisi kedua.
Hermanita. 2006. Perekonomian Indonesia.
Program Studi EI STAIN JURAI SIWO METRO:
Tidak Diterbitkan.
Langganan:
Postingan (Atom)